MAKALAH IMPLEMENTASI TQM DALAM PENDIDIKAN
MAKALAH
“IMPLEMENTASI TQM DALAM
PENDIDIKAN”
Makalah ini dibuat
untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem
Penjaminan Mutu Pendidikan

Dosen : Abdul Goffar, S.Pd.I, M.Pd.I
Kelompok :
1.
Siti Ayu Wulandari
2.
Indah Noviyah
3. Wasiyah
Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI)
AT-Taqwa
Bondowoso
Jln.
Hos Cokroaminoto Kademangan Bondowoso
KATA PENGANTAR
Puji
syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha Esa atas segala
limpahan Rahmat, Inayah, dan Taufik sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “IMPLEMENTASI TQM DALAM PENDIDIKAN”.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaa makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari
awal sampai akhir. Semoga makalah ini bisa berguna bagi kita semua khususnya
bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Amin
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Bagi setiap institusi, mutu adalah agenda utama dan meningkatkan
mutu merupakan tugas yang paling penting. Walaupun demikian, ada sebagian orang
menganggap mutu sebagai sebuah konsep yang penuh dengan teka teki. Mutu dianggap
sebagai suatu hal yang membingungkan dan sulit untuk diukur. Mutu dalam
pandangan seseorang terkadang bertentangan dengan mutu pandangan orang lain,
sehingga tidak aneh jika ada dua pakar yang tidak memiliki kesimpulan yang sama
tentang bagaimana menciptakan institusi yang baik.
- Rumusan Masalah
1.
Pengertian
Total quality management ?
2.
Apa
implementasi TQM di lembaga pendidikan ?
3.
Bagaimana
hambatan TQM di lembaga pendidikan ?
4.
Bagaimana
peranan manajemen dalam implementasi TQM ?
5.
Bagaimana
pendekatan implementasi yang harus dihindari ?
6.
Bagaimana
fase-fase implementasi TQM ?
- Tujuan
1.
Memahami
pengertian Total quality management
2.
Memahami
implementasi TQM dilembaga pendidikan
3.
Memahami
hambatan TQM dilembaga pendidikan
4.
Memahami
peranan manajemen dalam implementasi TQM
5.
Memahami
pendekatan implementasi yang harus dihindari
6.
Mengetahui
fase-fase implementasi TQM
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian Total Quality Management
Total Quality
Management (TQM) adalah suatu pendekatan dalam usaha memaksimalkan daya saing
melalui perbaikan terus-menerus atas jasa, manusia, produk dan lingkungan. Di
dalam total quality management (TQM), terdapat serangkaian usaha untuk
memaksimalkansemua fungsi organisasi dalam falsafah holistis yang dibangun
berdasarkan konsep mutu, kerja tim, efektifitas, dan prestasi serta kepuasan
pelanggan.
Ini menunjukkan
bahwa TQM merupakan suatu sistem manajemen yang menyangkut mutu sebagai
strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan
seluruh anggota organisasi. Di dalam total quality management yang di utamakan
adalah pertama, total. Total dalam TQM merupakan strategi organisasional
menyeluruh yang melibatkan semua jenjang dan jajaran manajemen dan karyawan,
bukan hanya pengguna akhir dan pembeli eksternal saja, melainkan pelanggan
internal, pemasok, bahkan personalia pendukung. Kedua, kualitas. Kualitas di
mana TQM lebih menekankan pelayanan kualitas, bukan sekedar produk bebas cacat.
Kualitas di definisikan oleh pelanggan, ekspektasi, pelanggan bersifat
individual, tergantung pada latar belakang sosial ekonomis dan karakteristik
demokrafis. Ketiga, manajemen. Manajemen di dalam TQM merupakan pendekatan
manajemen, bukan pendekatan teknis pengendalian kualitas yang sempit.
- Implementasi Total Quality Management (TQM) di Lembaga Pendidikan
Mutu dapat di
ukur dari kepuasan pelanggan atau penggunaan pendidikan. Beranjak dari hal
tersebut maka implementasi total quality management di lembaga
pendidikan ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1.
Adanya
perbaikan secara terus-menerus (continuous improvement). Perbaikan
senantiasa dilakukan secara terus-menerus oleh pihak lembaga pendidikan atau
sekolah ke arah peningkatan yang lebih baik.
2.
Adanya
standar mutu, setiap lembaga pendidikan atau sekolah pasti mempunyai standar
tersendiri untuk mengembangkan mutu lembaga tersebut. Adanya standar ini
bertujuan sebagai dasar atau landasan dalam pengembangan mutu. Dengan adanya
standar, lembaga pendidikan berusaha keras untuk mengembangkan lembaganya.
3.
Adanya
perubahan budaya atau kultur (change of culture). Pada tahap ini lembaga
pendidikan harus pandai dalam menyeleksi budaya atau kultur yang ada pada
lembaganya. Budaya yang negatif sebaiknya ditinggalkan, sedangkan budaya yang
positif sebaiknya dipertahankan.
4.
Adanya
perubahan organisasi, organisasi yang di anggap kurang efektif hendaknya juga
di tinggalkan. Organisasi harus di arahkan pada upaya pengembangan dan
peningkatan mutu pendidikan.
5.
Adanya
usaha untuk mempertahankan hubungan baik dengan para pelanggan. Hubungan baik
dengan para pelanggan pendidikan memang seharusnya selalu dijaga dengan baik.
Agar hubungan tersebut tetap terjaga dengan baik, harus ada komunikasi yang
terjalin antara pihak lembaga pendidikan atau sekolah dengan pelanggan
pendidikan
Prosedur dalam
mengimplementasikan TQM pada dasarnya menempuh tiga tahapan persiapan,
pengembangan sistem, implementasi sistem sebagai berikut:
1.
Persiapan
adalah aktivitas pertama dan utama yang harus dilakukan sebelum TQM
dikembangkan dan dilaksanakan. Beberapa langkah yang harus dilakukan adalah
membentuk tim dan melaksanakan pelatihan TQM bagi tim. Merumuskan model atau
sistem yang akan dikembangkan sebagai nama implementasi TQM, membuat kebijakan
berkaitan dengan komitmen anggota organisasi untuk mendukung TQM, membuat
kebijakan berkaitan dengan komitmen anggota organisasi untuk mendukung TQM,
mengomunikasikan kepada semua anggota organisasi berkaitan dengan adanya
perubahan, melakukan analisis faktor pendukung dan penghambat organisasi, dan
melakukan pengukuran terhadap kepuasan pelanggan.
2.
Pengembangan
sistem, berdasarkan tahapan persiapan, pengembangan sistem dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut: peninjauan dan pengembangan model atau
sistem yang ada melalui penyusunan dokumen sistem kualitas, melakukan
pelatihan, dan sosialisasi prosedur dan petunjuk kerja kepada tim-tim yang
ditentukan secara tuntas, serta melakukan penyiapan akhir, baik sumber daya
manusia maupun nonmanusia secara cermat dan akurat dalam memasuki tahapan
implementasi sistem kualitas.
3.
Implementasi
sistem menunjuk pada langkah-langkah sebagai berikut: melaksanakan uji coba
sistem jaminan kualitas dalam lingkup tertentu berdasarkan siklus PDCA (plan,
do, check, act) anggota tim menginformasikan kepada pimpinan maupun steering
commite berkaitan dengan uji coba sistem jaminan kualitas yang telah
dilaksanakan secara rinci.[1]
- Hambatan Implementasi Total Quality Management (TQM) di Lembaga Pendidikan.
Setidaknya
terdapat dua faktor yang dapt menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu
pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama, strategi pembangunan
lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar
kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti
penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana
pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya maka secara otomatis
lembaga pendidikan (pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi) akan dapat menghasilkan output (keluaran) bermutu sebagaimana
diharapkan.
Kedua,
pengelolaan pendidikan selama ini masih bersifat macro oriented, diatur
oleh jajaran birokrasi ditingkat pusat. Akibatnya banyak faktor yang
diproyeksikan ditingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan
sebagaimana mestinya ditingkat mikro (lembaga pendidikan). Dengan kata
lain, kompleksnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat
terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.
Pendidikan yang
bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan (output) yang
memiliki kemampuan atau kompetensi, baik kompetensi akademik maupun kompetensi
kejuruan, yang dilandasi oleh kompetensi personal dan sosial, yang secara
menyeluruh disebut sebagai kecakapan hidup (life skill). Pendidikan kecakapan
hidup adalah pendidikan yang bermutu, baik quality in fact maupun quality
in perception. Untuk dapat meningkatkan mutu, pendidikan harus dapat
melaksanakan pengelolaan yang di dasarkan pada peningkatan mutu pendidikan.
Secara
terperinci, tujuan dari program manajemen peningkatan mutu, antara lain sebagai
berikut:
1.
Mengembangkan
kemampuan pimpinan lembaga pendidikan bersama guru, unsur komite
sekolah/majelis madrasah dalam aspek manajemen berbasis sekolah untuk
meningkatkan mutu sekolah.
2.
Mengembangkan
kemampuan lembaga pendidikan bersama guru, unsur komite sekolah dalam
melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, baik dilingkungan
sekolah maupun di masyarakat setempat.
3.
Mengembangkan
peran serta masyarakat yang lebih aktif dalam masalah umum persekolahan dari
unsur komite sekolah dalam membantu peningkatan mutu sekolah.
Pimpinan
lembaga pendidikan harus mulai membaca kecenderungan masyarakat ke depan,
kemudian merancang strategi baru terkait dengan penjaminan mutu pendidikan.
Adapun strategi
pengelolaan program dapat ditempuh antara lain dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1.
Memberdayakan
komite lembaga pendidikan dalam peningkatan mutu pembelajaran.
2.
Unsur
pemerintah kabupaten/kota dalam hal ini instansi yang terkait antara lain Dinas
Pendidikan., badan perencanaan Kabupaten/Kota, Kementrian Pendidikan Nasional
(yang menangani pendidikan SD, SMP, dan SMA) dan Kementrian Agama (yang
menangani pendidikan MI, MTS dan MA), Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota terutama
membantu dalam mengordinasikan dan membuat jaringan kerja (akses) ke dalam
siklus kegiatan pemerintahan dan pembangunan pada umumnya dalam bidang
pendidikan.
3.
Memberdayakan
tenaga kependidikan, baik tenaga pengajar (guru), kepala sekolah, petugas
bimbingan dan penyuluhan (BP) maupun staf kantor, pejabat-pejabat di tingkat
kecamatan, unsur komite sekolah tentang Manajemen Berbasis Sekolah (MBS),
pembelajaran yang bermutu dan peran serta masyarakat.
- Peranan Manajemen dalam Implementasi Total Quality Management (TQM).
Tujuan
kepemimpinan dalam suatu perusahaan adalah untu memperbaiki kinerja sumber daya
manusia dan sumber daya lainnya, memperbaiki kualitas untuk meningkatkan output
dan secara simultan memberikan penghargaan atas prestasi kerja karyawan.
TQM merupakan
trasformasi budaya yang didorong oleh definisi ulang (reengineering)
terhadap peranan manajemen. Hal ini dikarenakan TQM merupakan paradigma
manajerial baru. Paradigma manajerial sendiri mengandung pengertian cara
berpikir dan bertindak dalam menjalankan bisnis. Pihak manajemen harus mengubah
dirinya terlebih dahulu, baik aspek nilai, keyakinan, asumsi, maupun cara
mereka menjalankan bisnis. Peranan merupakan tanggung jawab, perilaku, atau
prestasi kinerja yang diharapkan dari seseorang yang memiliki posisi khusus.
Dengan demikian, peranan manajemen puncak adalah tanggung jawab, perilaku, atau
prestasi kinerja yang diharapkan karena posisi yang dipegangnya. Selain
melaksanakan kepemimpinan yang diharapkan dapat memotivasi dan mengarahkan para
karyawan untuk mencapai tujuan organisasi, manajemen puncak juga bertanggung
jawab dalam mengatasi setiap penolakan terhadap perubahan ke arah manajemen
baru. Dalam mengatasi penolakan terhadap perubahan tersebut, manajer puncak
dapat menggunakan salah satu strategi berikut:
1.
Pendidikan
dan Komunikasi
Pendidikan dan pelatihan karyawan diperlukan agar karyawan dapat
lebih memahami maksud dan tujuan perlunya perubahan serta keterampilan mereka
meningkat dalam mengimplementasikan TQM. Strategi ini digunakan bila informasi
yang tersedia sangat kurang atau tidak akurat. Keuntungan strategi ini adalah
bila karyawan telah diyakinkan maka mereka akan selalu mambantu implementasi
perubahan ke arah TQM. Hanya saja kelemahan strategi ini adalah membutuhkan
waktu lama, terutama bila karyawan dalam jumlah yang sangat banyak.
2.
Patisipasi
dan Keterlibatan
Kondisi yang sesuai untuk strategi ini adalah bila manajemen puncak
tidak memiliki semua informasi yang dibutuhkan untuk mendesain perubahan,
sementara pihak manajer madya dan manajer tingkat bawah serta karyawan memiliki
informasi dan kemungkinan besar untuk menolak perubahan. Keunggulan strategi
ini adalah setiap orang yang berpartisipasi akan memiliki komitmen yang besar
untuk melaksanakan perubahan. Meskipun demikian, strategi ini juga memiliki
kelemahan, yaitu kemungkinan akan membuang waktu banayak bila perubahan yang
dirancang ternyata tidak sesuai.
3.
Fasilitasi
dan Dukungan
Strategi ini diterapkan bila orang menolak perubahan dikarenakan
masalah masalah penyesuaian.
4.
Negosiasi
dan Kesepakatan
Strategi ini cocok digunakan bila ada kemungkinan posisi atau
kedudukan seseorang atau suatu kelompok terancam dengan adanya perubahan yang
direncanakan.
5.
Manipulasi
dan Cooptation
Strategi ini dapat diterapkan bila strategi lainnya tidak dapat
berjalan sebagaimana yang diharapkan. Strategi ini merupakan solusi masalah
penolakan yang relatif cepat dan murah. Akan tetapi, suatu saat mungkin timbul
masalah bila karyawan merasa dimanipulasi.
6.
Paksaan
Secara Eksplisit dan Implisit
Strategi ini sesuai pada kondisi dimana faktor kecepatan merupakan
pertimbangan utama dan inisiator perubahan memiliki kekuasaan yang besar.
Strategi ini dapat memberikan hasil dalam waktu relatif singkat dan dapat
mengatasi segala macam penolakan. Akan tetapi, strategi ini sangat riskan
karena dapat menyebabkan kebencian yang mendalam terhadap sang inisiator
perubahan.
- Pendekatan Implementasi yang Harus Dihindari
Dalam
implementasi Total Quality Management (TQM) tidak ada satu pun rumus,
kiat atau cara tertentu berlaku universal, yang dapat menghasilkan kesuksesan
dalam segala kondisi dan untuk semua organisasi. Setiap organisasi harus
mengadaptasi ide-ide den teknik-teknik yang sesuai dengan situasi
organisasinya, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, budaya organisasi dan
situasi bisnis yang digeluti organisasi tersebut.
Meskipun tidak
ada cara yang tepat untuk menerapkan TQM, tetapi ada asas-asas atau fundamental
yang berlaku dalam setiap implementasi TQM. Organisasi harus menggunakan
pendekatan yang terstruktur yang memanfaatkan kekuatan, budaya, situasi bisnis,
dan kepribadian yang terlibat. Langkah-langkah awal harus dilakukan secara
hati-hati, tidak tergesa-gesa, dan dipantau dengan baik. Data harus dipelajari
dan setiap orang harus didengarkan. Umpan balik yang diperoleh dapat digunakan
untuk melakukan perbaikan yang dibutuhkan. Komunikasi merupakan faktor yang
sangat penting dalam mendukung kesuksesan penerapan TQM.
Agar
implementasi Total Quality Management (TQM) dapat berjalan dengan
sukses, perusahaan harus mempelajari semua informasi yang ada, baik mengenai
implementasi yang sukses maupun yang gagal diperusahaan lain. Ada beberapa
pendekatan implementasi TQM yang harus dihindari yaitu sebagai berikut:
1.
Jangan
melatih semua karyawan sekaligus
Pelatihan yang diberikan kepada sebagian besar karyawan pada tahap
awal implementasi TQM bukanlah pendekatan yang benar. Hal ini disebabkan
beberapa hal yaitu memerlukan dana yang sangat besar, tidak semua orang
membutuhkan pelatihan pada saat yang bersamaan, sebagian besar karyawan yang
telah dilatih akan melupakan apa yang telah mereka pelajari sebelum sempat
menerapkannya. Pendekatan yang lebih baik adalah memberikan pelatihan hanya
kepada kelompok kecil karyawan pada saat mereka membutuhkannya.
2.
Jangan
tergesa-gesa menerapkan TQM dengan melibatkan terlalu banyak orang dalam satu
tim.
Taichi Ohno menerapkan gugus kendali mutu di Toyota secara
bertahap. Ia mulai dengan pembentukan tim proses produksi. Ia berpendapat bahwa
tim-tim kecil dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh proses yang lebih luas
akan lebih efisien dari pada operator individual dalam pabrik produksi massa.
Selain proses perakitan normal, ia juga menugaskan kelompok kecil tersebut
untuk melakukan pemeriksaan kualitas dan memelihara mesin secara rutin. Ia juga
mengalokasikan waktu bagi tim tersebut untuk mendiskusikan pekerjaan mereka dan
mengembangkan cara untuk memperbaiki proses kerja mereka.
3.
Implementasi
TQM tidak boleh didelegasikan
Selain memiliki komitmen utuh terhadap TQM, manajemen juga harus
terlibat langsung secara personal dan aktif dalam implementasi TQM sehari-hari.
Ia tidak boleh mendelegasikan implementasinya kepada pihak lain. Tanpa adanya
keterlibatan manajemen dan karyawan, maka penerapan TQM akan sulit berhasil.
4.
Jangan
memulai implementasi bila manajemen belum benar-benar siap
Agar dapat menerapkan suatu sistem baru seperti TQM, manajemen
harus benar-benar memahami segala sesuatu mengenai TQM sebelum mencobanya. Bila
hal ini tidak dapat dipenuhi, maka usaha yang dilakukan akan sia-sia.[2]
- Fase Fase Implementasi Total Quality Management (TQM).
Implementasi TQM bukanlah suatu pendekatan yang sifatnya langsung
jadi atau hasilnya diperoleh dalam waktu sekejap, tetapi membutuhkan suatu
proses yang sistematis. Macam-macam fase yaitu :
1.
Fase
persiapan
Fase ini terdiri atas 10 langkah, sebelum langkah pertama dapat
dimulai syarat utama yang harus dipenuhi adalah adanya komitmen penuh dari
manajemen puncak atas waktu dan sumber daya yang dibutuhkan. Langkah-langkah
sebagai berikut :
a.
Membentuk
Total Quality Steering Commite
b.
Membentuk
Tim
c.
Pelatihan
Total Quality Management (TQM)
d.
Menyusun
pernyataan visi dan prinsip sebagai pedoman
e.
Menyusun
tujuan umum
f.
Komunikasi
dan publikasi
g.
Identifikasi
kekuatan dan kelemahan
h.
Identifikasi
pendukung dan penolak
i.
Memperkirakan
sikap karyawan
j.
Mengukur
kepuasan pelanggan
2.
Fase
perencanaan
Fase ini terdiri dari 4 langkah yaitu :
a.
Merencanakan
pendekatan implementasi, kemudian menggunakan siklus plan/do/check/adjust.
b.
Identifikasi
proyek
c.
Komposisi
Tim
d.
Pelatihan
Tim
3.
Fase
pelaksanaan
Fase ini terdiri dari 5 langkah yaitu :
a.
Penggiatan
Tim
b.
Umpan
balik kepada steering committee
c.
Umpan
balik dari pelanggan
d.
Umpan
balik dari karyawan
e.
Memodifikasi
infrastruktur[3]
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Total Quality Management (TQM) adalah suatu pendekatan dalam usaha
memaksimalkan daya saing melalui perbaikan terus-menerus atas jasa, manusia,
produk dan lingkungan. Di dalam total quality management (TQM), terdapat
serangkaian usaha untuk memaksimalkansemua fungsi organisasi dalam falsafah
holistis yang dibangun berdasarkan konsep mutu, kerja tim, efektifitas, dan
prestasi serta kepuasan pelanggan.
DAFTAR PUSTAKA
Aminatul
Zahro, 2014, Total Quality Management, Yokyakarta: Ar-Ruzz Media.
Nur
Nasution, 2004, Manajemen Mutu Terpadu, Bogor : Ghalia Indonesia.
[1]
Zahro Aminatul, 2014, Total
Quality Management, Yokyakarta: Ar-Ruzz Media.
[2] Nasution
Nur, 2004, Manajemen Mutu Terpadu, Bogor : Ghalia Indonesia
Komentar
Posting Komentar