MAKALAH STUDI AQIDAH DAN AKHLAK

MAKALAH
STUDI AQIDAH DAN AKHLAK
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Studi Islam


Dosen : Syamsul Arifin, S.pd.I, M.pd.I
Kelompok  : 7
1. Situ ayu wulandari
2. Indah Noviyah
3. Ana Ufilatul Laily




Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
AT-Taqwa Bondowoso
Jln. Hos Cokroaminoto Kademangan Bondowoso





KATA PENGANTAR
                   Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada akhirnya kami dapat menyelesaikan Makalah Pendidikan Kewarganegaan ini dengan baik. Dimana Makalah ini kami sajikan dalam bentuk tulisan yang sederhana. Adapun judul dari Makalah yang kami buat adalah sebagai berikut :
AKHLAK DAN AQIDAH
Tujuan dibuat nya makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu nilai untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam































DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................2
DAFTAR ISISI .................................................................................................................3
BAB I ...............................................................................................................................4
PENDAHULUAN ...................................................................................................................4
1.1    Latar Belakang ................................................................................................4
1.2    Rumusan Masalah ...........................................................................................4
1.3    Tujuan Masalah................................................................................................4
BAB II...............................................................................................................................5
PEMBAHASAN................................................................................................................5
2.1 Pengertian Aqidah Dan Akhlak........................................................................5
2.2 Metode Pencapaian Aqidah Dan Akhlak..........................................................8
2.3 Prinsip Prinsip Aqidah Dan Akhlak................................................................13
BAB III...........................................................................................................................17
PENUTUP.........................................................................................................................17
3.1 Kesimpulan....................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................18







BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Allah swt. adalah dzat Yang Maha Perkasa, keperkasaan Allah tiada bandingannya, tidak terbatas dan bersifat kekal. Allah swt. menciptakan alam semesta ini untuk kepentingan umat manusia, dalam  menciptakan alam Allah tidak pernah meminta bantuan terhadap mahluk lain, oleh karena itu kita sebagai hamba Allah hendaknya selalu memuliakan-Nya, kemampuan Allah dengan cara selalu mentaati seagala apa yang telah diperintahkan-Nya dan juga menjauhi segala sesuatu yang telah di larang-Nya. Allah memiliki 99 Asma’ul Husna, termasuk di antaranya ialah Ar Rahman, Ar Rahim, Al Ahad, Al Malik, As Shomad, Al Majid, Al Khaliq, Al Quddus, As Salam dan seterusnya. Nama-nama tersebut telah disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa adanya Asmaul Husna sebagai bukti bahwa Allah maha perkasa dan maha bijaksana, untuk itu maka kita wajib mengamalkan Asmaul Husna ke dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan sifat terpuji atau akhlak terpuji merupakan tingkah laku yang disukai oleh Allah SWT, maka kita sebagai makhluk-Nya harus memiliki sifat yang terpuji.

1.2  Rumusan Masalah
  1. Bagaimana pengertian aqidah dan akhlak
  2. Bagaimana metode pencapaian aqidah dan akhlak
  3. Bagaimana prinsip prinsip aqidah dan akhlak

1.3  Tujuan Masalah
  1. Mengetahui pengertian aqidah dan akhlak
  2. Mengetahui metode pencapaian aqidah dan akhlak
  3. Mengetahui prinsip prinsip aqidah dan akhlak







BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian  aqidah dan akhlak
1.      Definisi aqidah
                   Pada masa Rasulullah SAW, aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-perbedaan faham, kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau. Makanya kita dapatkan keterangan para sahabat yang artinya berbunyi : "Kita diberikan keimanan sebelum Al-Qur'an".
                  Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pemahaman -pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ali dan Muawiyah karena melakukan tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-Asy'ari dan Amru bin Ash. Timbul pula kelompok Syiah yang menuhankan Ali bin Abi Thalib dan timbul pula kelompok dari Irak yang menolak takdir dipelopori oleh Ma'bad Al-Juhani (Riwayat ini dibawakan oleh Imam Muslim, lihat Syarh Shohih Muslim oleh Imam Nawawi) dan dibantah oleh Ibnu Umar karena terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Para ulama menulis bantahan-bantahan dalam karya mereka. Terkadang aqidah juga digunakan dengan istilah Tauhid, ushuluddin (pokok-pokok agama), As-Sunnah (jalan yang dicontohkan Nabi Muhammad), Al-Fiqhul Akbar (fiqih terbesar), Ahlus Sunnah wal Jamaah (mereka yang menetapi sunnah Nabi dan berjamaah) atau terkadang menggunakan istilah ahlul hadits atau salaf yaitu mereka yang berpegang atas jalan Rasulullah SAW dari generasi abad pertama sampai generasi abad ketiga yang mendapat pujian dari Nabi SAW. Ringkasnya : Aqidah Islamiyah yang shahih bisa disebut Tauhid, fiqih akbar, dan ushuluddin. Sedangkan manhaj (metode) dan contohnya adalah ahlul hadits, ahlul sunnah dan salaf.
Karena aqidah adalah sebuah keyakinan yang pasti tidak bercampur dengan keraguan sedikitpun dan berhubungan erat dengan perkara yang ghaib, sehingga satu-satunya sumber dan jalan untuk mengetahui aqidah tersebut adalah dari al-Qur-an dan as-Sunnah. Allah U berfirman (artinya): “Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.” (QS. An-Naml: 65).
Allah telah menurunkan al-Qur-an dan mengutus para Rasul untuk menjelaskan semua hal yang wajib diyakini oleh manusia, dan penjelasan tersebut tentu saja bersumber dari sunnah beliau. Allah U berfirman menerangkan kedudukan sunnah Rasul-Nya:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur-an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44).

Inilah yang diyakini oleh para sahabat dan para imam kaum muslimin. Mereka semua selalu mengedepankan firman Allah dan Sabda Rasul-Nya, sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Hujurat: 1).
Bisa jadi menurut seseorang suatu ayat atau hadits tertentu bertentangan dengan akalnya, namun menurut orang lain yang dikaruniai ketajaman berfikir lebih, tidak merasakan adanya pertentangan tersebut. Ketajaman akal fikiran manusia tidaklah sama, sehingga tidak semua orang dapat menalari sesuatu dengan baik.
Kesimpulannya, orang yang selalu mengedepankan akal dari pada nash al-Qur-an dan hadits adalah orang yang sombong, takabbur dengan dirinya sendiri, menganggap akalnya mampu menalari segala sesuatu dan tidak mau mengakui kelemahan diri dan akalnya. Wallahu ta’ala a’lam
2.      Definisi akhlak
                  Secara terminologi akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.
Dalam Encyclopedia Brittanica, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.
Berbicara tentang akhlak atau kelakuan, manusia memiliki bermacam kelakuan. Nilai kelakuan atau akhlak disandarkan pada dua nilai, yaitu baik dan buruk. Bersandar pada nilai baik dan buruk tersebut, seseorang dapat dikategorikan memiliki akhlak terpuji dan akhlak buruk (tercela).
Akhlak bersumber pada agama. Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Perangai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang. Pembentukan perangai ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu kondisi lingkungannya. Lingkungan yang paling kecil adalah keluarga, melalui keluargalah kepribadian seseorang dapat terbentuk. Para ahli seperti Al Gazali menyatakan bahwa akhlak adalah peragai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Akhlak yang mulia, menurut Imam Ghazali ada 4 perkara; yaitu bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan kekuatan hawa nafsu) dan bersifat adil. Jelasnya, ia merangkumi sifat-sifat seperti berbakti pada keluarga dan negara, hidup bermasyarakat dan bersilaturahim, berani mempertahankan agama, senantiasa bersyukur dan berterima kasih, sabar dan rida dengan kesengsaraan, berbicara benar dan sebagainya. Masyarakat dan bangsa yang memiliki akhlak mulia adalah penggerak ke arah pembinaan tamadun dan kejayaan yang diridai oleh Allah Subhanahu Wataala. Seperti kata pepatah seorang penyair Mesir, Syauqi Bei: "Hanya saja bangsa itu kekal selama berakhlak. Bila akhlaknya telah lenyap, maka lenyap pulalah bangsa itu".
Contoh akhlak yang baik Hormat Dan Santun Kepada Tetangga Dan Guru, Hormat kepada tetangga Setiap muslim musti mengetahui hak-hak terhadap tetangganya, begitu pula tetangga terhadap satu dengan yang lainnya. Kalau kita ingin dikatakan orang yang beriman maka kita harus berbuat baik kepada tentangga kita, kalu kita masih mau dikatakan orang yang percaya terhadap hari kiamat maka kita harus memulikan tetangga kita,
sebab tidak sedikit ayat al-qur'an dan hadits yang memerintahkan untuk itu; diantaranay adalah ahdits yagn diriwayatkan oleh Bukhari Muslim :
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فاليكرم جاره (رواه بخارى) 
"barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia harus bermurah hati kepada tetangganya". (H.R. Bukhari Muslim)

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فاليحسن إلى جاره (رواه بخار)
"barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia harus berbuat baik kepada tetangganya". (H.R. Bukhari Muslim)


2.2  Metode pencapaian aqidah dan akhlak
A.    Metode pencapaian aqidah
Untuk mencapai aqidah yang sesuai dengan islam, maka dibutuhkan metode pencapaian khusus. Mengingat aqidah islam tidak dapat dimengerti dari pendekatan empirik, melalui rasul-Nya dan pesan tuhan tersebut telah diabadikan dalam satu kitab al-qur’an. Oleh karena itu, metode pencapaian aqidah dapat dilakukan dengan cara :
a.       Doktriner yang bersumber dari wahyu ilahi yang disampaikan secara operasional dan dijelaskan oleh sabda nabinya.
Dengan metode ini maka aqidah islam mampu mencapai kepercayaan yang bersifat sam’iyat, yaitu kejadian-kejadian tertentu yang harus diyakini kebenaran yang hanya bersumber pada wahyu ilahi. Misalnya : hari kiamat, surga, neraka, hisab dan lain sebagainya.
b.      Melalui hikmah (filosofik), dimana tuhan menganugrahkan kebijaksanaan dan kecerdasan berpikir kepada manusia untuk mengenal adanya tuhan melalui perenungan (kontemplasi) yang mendalam
c.       Melalui metode ilmiah, dengan memperhatikan fenomena alam sebagai bukti adannya allah swt, misalnya melalui :
1.        Antropologi (rmemperhatikan fenomena manusia sebagai makhluk individu) seperti yang diisyaratkan dalam QS. 86:5-7, 30:20, 90:4-9, 2:5, 95:4, 23:78-79.
2.      Botani (rmemrperhatikan fenomena-fenomena pada tumbuh-tumbuhan) sreperti yang diisyaaratkan dalam QS. 16:11, 22:5, 15:19, 27:60, 50:9.
d.      Metode irfaniyah, yaitu metode yang menekankan intuisi dan perasaan hati seseorang setelah melalui upaya suluk (perbuatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu). metode ini membagi alam menjadi dua kategori. pertama, alam nyata yang dapat diobservasi dan dieksperimentasi oleh ilmu pengetahuan modern dengan metode ilmiah. Kedua, alam intuisi yang berkaitan dengan jiwa yang tidak mungkin ditundukkan dengan pengalaman atau analogi. Alam kedua ini hanya mampu melalui metode intuis.
Menurut Yusuf Al-Qardawi, seorang pemikir islam kontemporer dapat dijelaskan bahwa karakteristik Aqidah Islamiyah adalah
1.      Jelas dan sederhana
Artinya aqidah islamiyah tidak rumit dan jelas, seluruh ajarannya terangkum bahwa tiada tuhan selain allah dan nabi muhammad adalah utusannya. Dan keyakinan itu dapat diterima oleh akal,
2.         Sesuai dengan fitrah manusia
Yaitu setiap manusia dapat memeroleh keterangan yang hakiki tentang kepercayaan aslinya.
3.      Solid dan baku
Tidak menerima atau mengalami perubahan baik tambahan maupun pengurrangan
4.      Argumentatif
Aqidah islamiyah yang argumentatif tidak cukup menetapkan persoalan-persoalan dengan mengandalkan doktrin lugas dan instruksi keras. Tetapi juga harus disertai alasan kuat dan argumen yang akurat
5.      moderat
aqidah islamiyah merupakan aqidah yang moderat atau pertengahan, yaitu menjadi penengah antara orang yang menegaskan metafisik dan orang yang memrpercayainya
B.     Metode pencapaian akhlak
1.       Arti pembentukam akhlak
Berbicara masalah pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah al-Abrasyi misalnya mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan islam. Demikian pula Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap muslim, yaitu untuk menyerahkan diri kepadanya dengan memeluk agama islam.[1][1]

Menurut sebagian ahli bahwa akhlak tidak perlu dibentuk, karena akhlak adalah insting (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir. Bagi golongan ini bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri, yaitu kecendrungan kepada kebaikan atau fitrah yang ada dalam diri manusia, dan dapat juga berupa patah hati atau intuisi yang selalu cenderung kepada kebenara.
Arti pembentukan akhlak sebagaimana Imam al-Ghazali kemukakan, “Seandainya akahlak itu tidak dapat menerima perubahan, maka batallah fungsi wasiat, nasihat, dan pendidikan, dan tidak ada fungsinya hadits yang mengatakan, ‘perbaikilah akhlak kamu sekalian’.” Dengan demikian dapat kita katakan bahwa akhlak merupakan hasil usaha dari pendidikan dan pelatihan, terhadap potensi rohaniah yang terdapat dalam diri manusia.[2][2]
Dengan demikian pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sunguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentukan akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya.

Metode Pembentukan Akhlak dalam Islam dilakukan secara integrated, yaitu melalui rukun iman dan rukun Islam. Ibadah dalam Islam menjadi sarana pembinaan akhlak. Ada beberapa metode lain dalam pembinaan Akhlak dalam Islam:
1.      Memilih pasangan hidup yang beragama.
2.      Banyak beribadah saat hamil.
3.      Mengazani saat kelahiran.
4.      Memberi makanan yang halal dan bergizi.
5.      Mencukur rambut dan khitan sebagai tanda kesucian.
6.      Aqiqah, isyarat menerima kehadiran sang anak.
7.      Memberi nama yang baik.
8.      Mengajari membaca Al-qur’an.
9.      Mengajari salat sejak umur tujuh tahun. [3]
2.       .Faktor yangmempengaruhi pembentukan akhlak
Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan Akhlak antara lain adalah:
a.       Insting (Naluri)
Aneka corak refleksi sikap, tindakan dan perbuatan manusia dimotivasi oleh kehendak yang dimotori oleh Insting seseorang ( dalam bahasa Arab gharizah). Insting merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para Psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku antara lain adalah:
1.      Naluri Makan (nutrive instinct). Manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa didorang oleh orang lain.
2.      Naluri Berjodoh (seksul instinct).
3.      Naluri Keibuan (peternal instinct) tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya.
4.      Naluri Berjuang (combative instinct). Tabiat manusia untuk mempertahnkan diri dari gangguan dan tantangan
5.        Naluri Bertuhan. Tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya.
6.      Naluri manusia itu merupakan paket yang secara fitrah sudah ada dan tanpa perlu dipelajrari terlebih dahulu
b.         Adat/Kebiasaan
Adat atau kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Abu Bakar Zikir berpendapat: perbutan manusia, apabila dikerjakan secara berulang-ulang sehingga mudah melakukannya, itu dinamakan adat kebiasaan.
c.       Wirotsah (keturunan)
Adapun warisan adalah:
1.      Berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan).
2.      Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya. Kadang-kadang anak itu mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya.

d.        Milieu
Artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup meliputi tanah dan udara sedangkan lingkungan manusia, ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan masyarakat. milieu ada 2 macam:
1.        Lingkungan Alam
Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan pertumbuhn bakat yang dibawa oleh seseorang. Pada zaman Nabi Muhammad pernah terjadi seorang badui yang kencing di serambi masjid, seorang sahabat membentaknya tapi nabi melarangnya. Kejadian diatas dapat menjadi contoh bahwa badui yang menempati lingkungan yang jauh dari masyarakat luas tidak akan tau norma-norma yang berlaku.
2.      Lingkungan Pergaulan
Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan tingkah laku. Contohnya Akhlak orang tua dirumah dapat pula mempengaruhi akhlak anaknya, begitu juga akhlak anak sekolah dapat terbina dan terbentuk menurut pendidikan yang diberikan oleh guru-guru disekolah.[4][5]
2.3  Prinsip prinsip aqidah dan akhlak
  1. Prinsip aqidah
1.      Berserah diri pada Allah dengan bertauhid
Maksud prinsip ini adalah beribadah murni kepada Allah semata, tidak pada yang lainnya. Siapa yang tidak berserah diri kepada Allah, maka ia termasuk orang-orang yang sombong. Begitu pula orang yang berserah diri pada Allah juga pada selain-Nya (artinya: Allah itu diduakan dalam ibadah), maka ia disebut musyrik. Yang berserah diri pada Allah semata, itulah yang disebut muwahhid (ahli tauhid).
Tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Sesembahan itu beraneka ragam, orang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Allah Ta’ala berfirman,
 وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31).
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5).
Dalam ayat lain, Allah menyebutkan mengenai Islam sebagai agama yang lurus,
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40). Inilah yang disebut Islam. Sedangkan yang berbuat syirik dan inginnya melestarikan syirik atas nama tradisi, tentu saja tidak berprinsip seperti ajaran Islam yang dituntunkan.
2.      Taat kepada allah dengan melakukan ketaatan
Orang yang bertauhid berarti berprinsip pula menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketaatan berarti menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Jadi tidak cukup menjadi seorang muwahhid (meyakini Allah itu diesakan dalam ibadah) tanpa ada amal.
3.      Berlepas diri dari syirik dan pelakuan syirik
Tidak cukup seseorang berprinsip dengan dua prinsip di atas. Tidak cukup ia hanya beribadah kepada Allah saja, ia juga harus berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik. Jadi prinsip seorang muslim adalah ia meyakini batilnya kesyirikan dan ia pun mengkafirkan orang-orang musyrik. Seorang muslim harus membenci dan memusuhi mereka karena Allah. Karena prinsip seorang muslim adalah mencintai apa dan siapa yang Allah cintai dan membenci apa dan siapa yang Allah benci.
Demikianlah dicontohkan oleh Ibrahim ‘alaihis salam di mana beliau dan orang-orang yang bersama beliau[1] berlepas diri dari orang-orang musyrik. Saksikan pada ayat,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah.(QS. Al Mumtahanah: 4). Ibrahim berlepas diri dari orang musyrik dan sesembahan mereka.
كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4).
Dalam ayat lain disebutkan pula,
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.(QS. Al Mujadilah: 22).


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آَبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At Taubah ah: 23)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. Al Mumtahanah: 1).
  1. Prinsip akhlak
1.      Akhlak yang baik dan benar harus didasarkan atas al-Qur’an dan as-Sunah bukan dari tradisi atau aliran-aliran tertentu yang sudah tampak tersesat.
Aliran ahlus sunah memandang baik buruk didasarkan atas agama, dan akal tidak mungkin mengetahui yang baik dan buruk tergantung pada kesesuaian dengan akal, karena akal merupakan anugerah Allah yang mulia. Al-Ghazali memandang baik buruk atas akal yang didasari dengan jiwa agama baik berdasarkan al-Qur’an maupun hadis. sedang Abu A'la al-Maududi memandang baik buruk ditentukan oleh pengalaman, rasio, dan intuisi manusia yang dibimbing tuhan melalui wahyu-Nya. Tampaknya pendapat yang terakhir inilah yang dapat dijadikan prinsip baik akhlak alami, karena kenyataannya akhlak merupakan kebiasaan yang reflektif yang semestinya ditopang oleh kebenaran rasio, dan intuisi dibimbing oleh wahyu Allah.
2.      Adanya keseimbangan antara berakhlak kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada makhluk Allah
Berakhlak kepada manusia adalah toleransi antaragama, memberikan hak sebagai tetangga, warga negara atau warga agama, ikut terlibat dalam segala hal, tidak ingin menang sendiri, bertanggungjawab atas masalah sosial, tolong menolong, saling memaafkan, saling menghormati, dan sabar serta menahan diri. Sedangkan akhlak kepada hewan dan tumbuhan adalah melestarikan, memanfaatkan untuk kepentingan ibadah, tidak menyakiti, sehingga Nabi SAW, menyerukan agar menajamkan alat potong ketika ingin menyembelih hewan
3.      Pelaksanaan akhlak harus bersamaan dengan akidah dan syariah, karena ketiga unsur diatas merupakan bagian integral dari syariah Allah swt.
4.      Akhlak dilakukan semata-mata karena Allah, walaupun objek akhlak adalah kepada makhluk. Sedangkan ahklak kepada Allah harus lebih diutamakan dari pada akhlak kepada makhluk.
5.      Akhlak dilakukan menurut proporsinya, misalnya seorang anak harus lebih hormat kepada orang tuanya dari pada orang lain.




























BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Akhlak ataupun budipekerti memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Akhlak yang baik akan membedakan antara manusia dengan hewan. Manusia yang berakhlak mulia, dapat menjaga kemuliaan dan kesucian jiwanya, dapat mengalahkan tekanan hawa nafsu syahwat syaitoniah, berpegang teguh kepada sendi-sendi keutamaan. Menghindarkan diri dari sifat-sifat kecurangan, kerakusan dan kezaliman. Manusia yang berakhlak mulia, suka tolong menolong sesama insan dan makhluk lainnya. Mereka senang berkorban untuk kepentingan ersama.Yang kecil hormat kepada yang tua,yang tua kasih kepada yang kecil.Manusia yang memiliki budi pekerti yang mulia, senang kepada kebenaran dan keadilan, toleransi, mematuhi janji, lapang dada dan tenang dalam menghadapi segala halangan dan rintangan. Akhlak yang baik akan mengangkat manusia ke darjat yang tinggi dan mulia. Akhlak yang buruk akan membinasakan seseorang insan dan juga akan membinasakan ummat manusia. Manusia yang mempunyai akhlak yang buruk senang melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Senang melakukan kekacauan, senang melakukan perbuatan yang tercela, yang akan membinasakan diri dan masyarakat seluruhnya. Nabi s.a.w.bersabda yang bermaksud: "Orang Mukmin yang paling sempurna imannya, ialah yang paling baik akhlaknya." (H.R.Ahmad). Manusia yang paling baik akhlaknya ialah junjungan kita Nabi s.a.w. sehingga budi pekerti beliau tercantum dalam al-Quran, Allah berfirman yang maksudnya: "Sesungguhnya engkau (Muhammad), benar-benar berbudi pekerti yang agung. "Sesuatu Ummat bagaimanapun hebat Kekuatan dan Kekayaan yang dimilikinya, akan tetapi jika budi pekertinya telah binasa, maka Ummat itu akan mudah binasa. Manusia yang tidak punya akhlak, mereka sanggup melakukan apa saja untuk kepentingan dirinya. Mereka sanggup berbohong, membuat fitnah, menjual marwah diri dan keluarga, malah dengan tidak segan silu lagi dia menjual Agama dan Negaranya.






DAFTAR PUSTAKA







http://isaythisisaythat.blogspot.co.id/2012/12/metode-pencapaian-akhlak.html, di akses pada tanggal 19 desember 2016, jam 10.11


https://rumaysho.com/2778-3-prinsip-akidah-seorang-muslim.html, di akses pada tanggal 19 desember 2016, jam 10.14

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH PENGELOLAAN PONDOK PESANTREN