MAKALAH STUDI AQIDAH DAN AKHLAK
MAKALAH
“STUDI AQIDAH
DAN AKHLAK”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Pengantar Studi Islam
Dosen : Syamsul Arifin,
S.pd.I, M.pd.I
Kelompok
: 7
1. Situ ayu wulandari
2. Indah Noviyah
3. Ana Ufilatul Laily
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
AT-Taqwa Bondowoso
Jln. Hos Cokroaminoto Kademangan Bondowoso
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada
akhirnya kami dapat menyelesaikan Makalah Pendidikan Kewarganegaan ini dengan baik. Dimana Makalah ini kami sajikan dalam bentuk
tulisan yang sederhana. Adapun judul dari Makalah yang kami buat adalah sebagai
berikut :
AKHLAK DAN AQIDAH
Tujuan dibuat nya makalah ini adalah untuk memenuhi
salah satu nilai untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................2
DAFTAR ISISI
.................................................................................................................3
BAB I
...............................................................................................................................4
PENDAHULUAN ...................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang ................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................4
1.3 Tujuan Masalah................................................................................................4
BAB II...............................................................................................................................5
PEMBAHASAN................................................................................................................5
2.1 Pengertian Aqidah Dan Akhlak........................................................................5
2.2 Metode Pencapaian Aqidah Dan Akhlak..........................................................8
2.3 Prinsip Prinsip Aqidah Dan Akhlak................................................................13
BAB
III...........................................................................................................................17
PENUTUP.........................................................................................................................17
3.1
Kesimpulan....................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................18
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Allah swt. adalah dzat Yang Maha
Perkasa, keperkasaan Allah tiada bandingannya, tidak terbatas dan bersifat
kekal. Allah swt. menciptakan alam semesta ini untuk kepentingan umat manusia,
dalam menciptakan alam Allah tidak
pernah meminta bantuan terhadap mahluk lain, oleh karena itu kita sebagai hamba
Allah hendaknya selalu memuliakan-Nya, kemampuan Allah dengan cara selalu
mentaati seagala apa yang telah diperintahkan-Nya dan juga menjauhi segala
sesuatu yang telah di larang-Nya. Allah memiliki 99 Asma’ul Husna, termasuk di
antaranya ialah Ar Rahman, Ar Rahim, Al Ahad, Al Malik, As Shomad, Al Majid, Al
Khaliq, Al Quddus, As Salam dan seterusnya. Nama-nama tersebut telah disebutkan
dalam Al-Qur’an bahwa adanya Asmaul Husna sebagai bukti bahwa Allah maha perkasa
dan maha bijaksana, untuk itu maka kita wajib mengamalkan Asmaul Husna ke dalam
kehidupan sehari-hari.
Sedangkan sifat terpuji atau
akhlak terpuji merupakan tingkah laku yang disukai oleh Allah SWT, maka kita
sebagai makhluk-Nya harus memiliki sifat yang terpuji.
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana pengertian aqidah dan akhlak
- Bagaimana metode pencapaian aqidah dan akhlak
- Bagaimana prinsip prinsip aqidah dan akhlak
1.3 Tujuan Masalah
- Mengetahui pengertian aqidah dan akhlak
- Mengetahui metode pencapaian aqidah dan akhlak
- Mengetahui prinsip prinsip aqidah dan akhlak
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
aqidah dan akhlak
1.
Definisi aqidah
Pada masa Rasulullah SAW, aqidah bukan
merupakan disiplin ilmu tersendiri karena masalahnya sangat jelas dan tidak
terjadi perbedaan-perbedaan faham, kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh
beliau. Makanya kita dapatkan keterangan para sahabat yang artinya berbunyi : "Kita
diberikan keimanan sebelum Al-Qur'an".
Pada
masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pemahaman -pemahaman baru
seperti kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ali dan Muawiyah karena melakukan
tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-Asy'ari dan Amru bin Ash.
Timbul pula kelompok Syiah yang menuhankan Ali bin Abi Thalib dan timbul pula
kelompok dari Irak yang menolak takdir dipelopori oleh Ma'bad Al-Juhani
(Riwayat ini dibawakan oleh Imam Muslim, lihat Syarh Shohih Muslim oleh Imam
Nawawi) dan dibantah oleh Ibnu Umar karena terjadinya
penyimpangan-penyimpangan. Para ulama menulis bantahan-bantahan dalam karya
mereka. Terkadang aqidah juga digunakan dengan istilah Tauhid, ushuluddin
(pokok-pokok agama), As-Sunnah (jalan yang dicontohkan Nabi Muhammad),
Al-Fiqhul Akbar (fiqih terbesar), Ahlus Sunnah wal Jamaah (mereka yang menetapi
sunnah Nabi dan berjamaah) atau terkadang menggunakan istilah ahlul hadits atau
salaf yaitu mereka yang berpegang atas jalan Rasulullah SAW dari generasi abad
pertama sampai generasi abad ketiga yang mendapat pujian dari Nabi SAW.
Ringkasnya : Aqidah Islamiyah yang shahih bisa disebut Tauhid, fiqih akbar, dan
ushuluddin. Sedangkan manhaj (metode) dan contohnya adalah ahlul hadits, ahlul
sunnah dan salaf.
Karena aqidah adalah sebuah
keyakinan yang pasti tidak bercampur dengan keraguan sedikitpun dan berhubungan
erat dengan perkara yang ghaib, sehingga satu-satunya sumber dan jalan untuk
mengetahui aqidah tersebut adalah dari al-Qur-an dan as-Sunnah. Allah U berfirman
(artinya): “Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang
mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.” (QS. An-Naml: 65).
Allah telah menurunkan
al-Qur-an dan mengutus para Rasul untuk menjelaskan semua hal yang wajib
diyakini oleh manusia, dan penjelasan tersebut tentu saja bersumber dari sunnah
beliau. Allah U berfirman menerangkan kedudukan sunnah Rasul-Nya:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ
لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون
“Dan Kami turunkan kepadamu
al-Qur-an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan
kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44).
Inilah yang diyakini oleh
para sahabat dan para imam kaum muslimin. Mereka semua selalu mengedepankan
firman Allah dan Sabda Rasul-Nya, sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Hujurat: 1).
Bisa jadi menurut seseorang
suatu ayat atau hadits tertentu bertentangan dengan akalnya, namun menurut
orang lain yang dikaruniai ketajaman berfikir lebih, tidak merasakan adanya
pertentangan tersebut. Ketajaman akal fikiran manusia tidaklah sama, sehingga
tidak semua orang dapat menalari sesuatu dengan baik.
Kesimpulannya, orang yang
selalu mengedepankan akal dari pada nash al-Qur-an dan hadits adalah orang yang
sombong, takabbur dengan dirinya sendiri, menganggap akalnya mampu menalari
segala sesuatu dan tidak mau mengakui kelemahan diri dan akalnya. Wallahu
ta’ala a’lam
2. Definisi akhlak
Secara
terminologi akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu
keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak
merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa
Arab
yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Kata akhlak diartikan sebagai
suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang
tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu
saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya
didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan
pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan
sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan
terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.
Dalam Encyclopedia Brittanica,
akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang
sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar,
salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu,
selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.
Berbicara tentang akhlak atau
kelakuan, manusia memiliki bermacam kelakuan. Nilai
kelakuan atau akhlak disandarkan pada dua nilai, yaitu baik dan buruk.
Bersandar pada nilai baik dan buruk tersebut, seseorang dapat dikategorikan
memiliki akhlak terpuji dan akhlak buruk (tercela).
Akhlak bersumber pada agama. Tiga pakar di bidang
akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak
adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan
perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Perangai sendiri
mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan
seseorang. Pembentukan perangai ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor
dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu kondisi lingkungannya. Lingkungan
yang paling kecil adalah keluarga, melalui keluargalah kepribadian seseorang
dapat terbentuk. Para ahli seperti Al Gazali menyatakan bahwa akhlak adalah
peragai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik
tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Akhlak yang
mulia, menurut Imam Ghazali ada 4 perkara; yaitu bijaksana, memelihara diri
dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan kekuatan hawa nafsu) dan
bersifat adil. Jelasnya, ia
merangkumi sifat-sifat seperti berbakti pada keluarga dan negara, hidup
bermasyarakat dan bersilaturahim, berani mempertahankan agama, senantiasa
bersyukur dan berterima kasih, sabar dan rida dengan kesengsaraan, berbicara
benar dan sebagainya. Masyarakat dan bangsa yang memiliki akhlak mulia adalah
penggerak ke arah pembinaan tamadun dan kejayaan yang diridai oleh Allah
Subhanahu Wataala. Seperti kata pepatah seorang penyair Mesir, Syauqi Bei: "Hanya
saja bangsa itu kekal selama berakhlak. Bila akhlaknya telah lenyap, maka
lenyap pulalah bangsa itu".
Contoh akhlak
yang baik Hormat Dan Santun Kepada Tetangga Dan Guru, Hormat kepada tetangga Setiap muslim musti
mengetahui hak-hak terhadap tetangganya, begitu pula tetangga terhadap satu
dengan yang lainnya. Kalau kita ingin dikatakan orang yang beriman maka kita
harus berbuat baik kepada tentangga kita, kalu kita masih mau dikatakan orang
yang percaya terhadap hari kiamat maka kita harus memulikan tetangga kita,
sebab tidak sedikit ayat al-qur'an dan hadits yang memerintahkan untuk itu; diantaranay adalah ahdits yagn diriwayatkan oleh Bukhari Muslim :
sebab tidak sedikit ayat al-qur'an dan hadits yang memerintahkan untuk itu; diantaranay adalah ahdits yagn diriwayatkan oleh Bukhari Muslim :
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فاليكرم جاره (رواه بخارى)
"barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir maka ia harus bermurah hati kepada tetangganya". (H.R. Bukhari
Muslim)
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فاليحسن إلى جاره (رواه
بخار)
"barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir maka ia harus berbuat baik kepada tetangganya". (H.R. Bukhari
Muslim)
2.2 Metode pencapaian aqidah dan
akhlak
A.
Metode
pencapaian aqidah
Untuk mencapai aqidah yang sesuai dengan islam, maka dibutuhkan
metode pencapaian khusus. Mengingat aqidah islam tidak dapat dimengerti dari
pendekatan empirik, melalui rasul-Nya dan pesan tuhan tersebut telah diabadikan
dalam satu kitab al-qur’an. Oleh karena itu, metode
pencapaian aqidah dapat dilakukan dengan cara :
a.
Doktriner
yang bersumber dari wahyu ilahi yang disampaikan secara operasional dan
dijelaskan oleh sabda nabinya.
Dengan
metode ini maka aqidah islam mampu mencapai kepercayaan yang bersifat sam’iyat,
yaitu kejadian-kejadian tertentu yang harus diyakini kebenaran yang hanya
bersumber pada wahyu ilahi. Misalnya : hari kiamat, surga, neraka, hisab dan
lain sebagainya.
b.
Melalui hikmah
(filosofik), dimana tuhan
menganugrahkan kebijaksanaan dan kecerdasan berpikir kepada manusia untuk
mengenal adanya tuhan melalui perenungan (kontemplasi) yang mendalam
c.
Melalui metode ilmiah, dengan memperhatikan fenomena alam sebagai
bukti adannya allah swt, misalnya melalui :
1.
Antropologi
(rmemperhatikan fenomena manusia sebagai makhluk individu) seperti yang
diisyaratkan dalam QS. 86:5-7, 30:20, 90:4-9, 2:5, 95:4, 23:78-79.
2.
Botani (rmemrperhatikan fenomena-fenomena pada tumbuh-tumbuhan)
sreperti yang diisyaaratkan dalam QS. 16:11, 22:5, 15:19, 27:60, 50:9.
d.
Metode irfaniyah,
yaitu metode yang menekankan intuisi dan perasaan hati seseorang setelah
melalui upaya suluk (perbuatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu). metode
ini membagi alam menjadi dua kategori. pertama,
alam nyata yang dapat diobservasi dan dieksperimentasi oleh ilmu pengetahuan
modern dengan metode ilmiah. Kedua, alam intuisi yang berkaitan dengan jiwa
yang tidak mungkin ditundukkan dengan pengalaman atau analogi. Alam kedua ini
hanya mampu melalui metode intuis.
Menurut Yusuf Al-Qardawi, seorang pemikir islam kontemporer dapat
dijelaskan bahwa karakteristik Aqidah Islamiyah adalah
1. Jelas dan sederhana
Artinya
aqidah islamiyah tidak rumit dan jelas, seluruh ajarannya terangkum bahwa tiada
tuhan selain allah dan nabi muhammad adalah utusannya. Dan keyakinan itu dapat
diterima oleh akal,
2.
Sesuai dengan fitrah
manusia
Yaitu
setiap manusia dapat memeroleh keterangan yang hakiki tentang kepercayaan
aslinya.
3.
Solid
dan baku
Tidak
menerima atau mengalami perubahan baik tambahan maupun pengurrangan
4.
Argumentatif
Aqidah
islamiyah yang argumentatif tidak cukup menetapkan persoalan-persoalan dengan
mengandalkan doktrin lugas dan instruksi keras. Tetapi juga harus disertai
alasan kuat dan argumen yang akurat
5.
moderat
aqidah
islamiyah merupakan aqidah yang moderat atau pertengahan, yaitu menjadi
penengah antara orang yang menegaskan metafisik dan orang yang memrpercayainya
B.
Metode
pencapaian akhlak
1. Arti pembentukam
akhlak
Berbicara
masalah pembentukan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan,
karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan
pendidikan adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah al-Abrasyi misalnya
mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan
pendidikan islam. Demikian pula Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa tujuan utama
pendidikan islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap muslim, yaitu untuk
menyerahkan diri kepadanya dengan memeluk agama islam.[1][1]
Menurut
sebagian ahli bahwa akhlak tidak perlu dibentuk, karena akhlak adalah insting
(garizah) yang dibawa manusia sejak lahir. Bagi golongan ini bahwa masalah
akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri, yaitu kecendrungan kepada
kebaikan atau fitrah yang ada dalam diri manusia, dan dapat juga berupa patah
hati atau intuisi yang selalu cenderung kepada kebenara.
Arti
pembentukan akhlak sebagaimana Imam al-Ghazali kemukakan, “Seandainya akahlak
itu tidak dapat menerima perubahan, maka batallah fungsi wasiat, nasihat, dan
pendidikan, dan tidak ada fungsinya hadits yang mengatakan, ‘perbaikilah akhlak
kamu sekalian’.” Dengan demikian dapat kita katakan bahwa akhlak merupakan
hasil usaha dari pendidikan dan pelatihan, terhadap potensi rohaniah yang
terdapat dalam diri manusia.[2][2]
Dengan demikian pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha
sunguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana
pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentukan
akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa
akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya.
Metode Pembentukan Akhlak dalam Islam dilakukan secara integrated, yaitu melalui rukun iman dan rukun
Islam. Ibadah dalam Islam menjadi sarana pembinaan akhlak. Ada beberapa metode lain dalam pembinaan
Akhlak dalam Islam:
1.
Memilih pasangan hidup yang beragama.
2.
Banyak beribadah saat hamil.
3.
Mengazani saat kelahiran.
4.
Memberi makanan yang halal dan bergizi.
5.
Mencukur rambut dan khitan sebagai tanda kesucian.
6.
Aqiqah, isyarat menerima kehadiran sang anak.
7.
Memberi nama yang baik.
8.
Mengajari membaca Al-qur’an.
9.
Mengajari salat sejak umur tujuh tahun. [3]
2.
.Faktor
yangmempengaruhi pembentukan akhlak
Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan Akhlak
antara lain adalah:
a.
Insting (Naluri)
Aneka corak refleksi sikap, tindakan dan perbuatan manusia
dimotivasi oleh kehendak yang dimotori oleh Insting seseorang ( dalam bahasa
Arab gharizah). Insting merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak
lahir. Para Psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator
penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku antara lain adalah:
1. Naluri Makan
(nutrive instinct). Manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa
didorang oleh orang lain.
2. Naluri Berjodoh
(seksul instinct).
3. Naluri Keibuan
(peternal instinct) tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya dan sebaliknya
kecintaan anak kepada orang tuanya.
4. Naluri Berjuang
(combative instinct). Tabiat manusia untuk mempertahnkan diri dari gangguan dan
tantangan
5.
Naluri Bertuhan. Tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya.
6.
Naluri manusia itu merupakan paket yang secara fitrah sudah ada dan tanpa
perlu dipelajrari terlebih dahulu
b.
Adat/Kebiasaan
Adat atau
kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara
berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Abu Bakar
Zikir berpendapat: perbutan manusia, apabila dikerjakan secara berulang-ulang
sehingga mudah melakukannya, itu dinamakan adat kebiasaan.
c.
Wirotsah (keturunan)
Adapun warisan adalah:
1. Berpindahnya
sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan).
2. Sifat-sifat
asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya. Kadang-kadang
anak itu mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya.
d.
Milieu
Artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup
meliputi tanah dan udara sedangkan lingkungan manusia, ialah apa yang
mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan masyarakat. milieu ada 2
macam:
1. Lingkungan Alam
Alam yang melingkupi
manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku
seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan pertumbuhn bakat yang
dibawa oleh seseorang. Pada zaman Nabi Muhammad pernah terjadi seorang badui
yang kencing di serambi masjid, seorang sahabat membentaknya tapi nabi
melarangnya. Kejadian diatas dapat menjadi contoh bahwa badui yang menempati
lingkungan yang jauh dari masyarakat luas tidak akan tau norma-norma yang
berlaku.
2.
Lingkungan Pergaulan
Manusia hidup selalu
berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul. Oleh
karena itu, dalam pergaulan akan saling mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan
tingkah laku. Contohnya Akhlak orang tua dirumah dapat pula mempengaruhi akhlak
anaknya, begitu juga akhlak anak sekolah dapat terbina dan terbentuk menurut
pendidikan yang diberikan oleh guru-guru disekolah.[4][5]
2.3 Prinsip prinsip aqidah dan akhlak
- Prinsip aqidah
1.
Berserah
diri pada Allah dengan bertauhid
Maksud
prinsip ini adalah beribadah murni kepada Allah semata, tidak pada yang
lainnya. Siapa yang tidak berserah diri kepada Allah, maka ia termasuk
orang-orang yang sombong. Begitu pula orang yang berserah diri pada Allah juga
pada selain-Nya (artinya: Allah itu diduakan dalam ibadah), maka ia disebut
musyrik. Yang berserah diri pada Allah semata, itulah yang disebut muwahhid
(ahli tauhid).
Tauhid
adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Sesembahan itu beraneka ragam, orang yang
bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Allah Ta’ala
berfirman,
وَمَا
أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ
سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Padahal
mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. At Taubah: 31).
Begitu
pula Allah Ta’ala
berfirman,
وَمَا
أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ibadah
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS.
Al Bayyinah: 5).
Dalam
ayat lain, Allah menyebutkan mengenai Islam sebagai agama yang lurus,
إِنِ
الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ
الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Hukum
itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah
selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (QS. Yusuf: 40). Inilah yang disebut Islam. Sedangkan
yang berbuat syirik dan inginnya melestarikan syirik atas nama tradisi, tentu
saja tidak berprinsip seperti ajaran Islam yang dituntunkan.
2.
Taat kepada allah dengan melakukan ketaatan
Orang yang bertauhid berarti berprinsip pula menjalankan perintah
Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketaatan berarti menjalankan perintah dan
menjauhi larangan. Jadi tidak cukup menjadi seorang muwahhid (meyakini Allah itu
diesakan dalam ibadah) tanpa ada amal.
3. Berlepas diri dari syirik dan pelakuan syirik
Tidak
cukup seseorang berprinsip dengan dua prinsip di atas. Tidak cukup ia hanya
beribadah kepada Allah saja, ia juga harus berlepas diri dari syirik dan pelaku
syirik. Jadi prinsip seorang muslim adalah ia meyakini batilnya kesyirikan dan
ia pun mengkafirkan orang-orang musyrik. Seorang muslim harus membenci dan
memusuhi mereka karena Allah. Karena prinsip seorang muslim adalah mencintai
apa dan siapa yang Allah cintai dan membenci apa dan siapa yang Allah benci.
Demikianlah
dicontohkan oleh Ibrahim ‘alaihis salam di mana beliau dan
orang-orang yang bersama beliau[1]
berlepas diri dari orang-orang musyrik. Saksikan pada ayat,
قَدْ
كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ
قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ
اللَّهِ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik
bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka
berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari
daripada apa yang kamu sembah selain Allah.” (QS. Al Mumtahanah: 4). Ibrahim berlepas diri dari orang musyrik
dan sesembahan mereka.
كَفَرْنَا
بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا
حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Kami
ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan
kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”
(QS. Al Mumtahanah: 4).
Dalam
ayat lain disebutkan pula,
لَا
تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ
حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ
إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada
Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau
anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22).
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آَبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ
اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ
فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan
bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih
mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan
mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At
Taubah ah: 23)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا
عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ
‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. Al Mumtahanah: 1).
- Prinsip akhlak
1. Akhlak yang
baik dan benar harus didasarkan atas al-Qur’an dan as-Sunah bukan dari tradisi
atau aliran-aliran tertentu yang sudah tampak tersesat.
Aliran ahlus sunah memandang baik buruk didasarkan atas agama, dan akal tidak mungkin mengetahui yang baik dan buruk tergantung pada kesesuaian dengan akal, karena akal merupakan anugerah Allah yang mulia. Al-Ghazali memandang baik buruk atas akal yang didasari dengan jiwa agama baik berdasarkan al-Qur’an maupun hadis. sedang Abu A'la al-Maududi memandang baik buruk ditentukan oleh pengalaman, rasio, dan intuisi manusia yang dibimbing tuhan melalui wahyu-Nya. Tampaknya pendapat yang terakhir inilah yang dapat dijadikan prinsip baik akhlak alami, karena kenyataannya akhlak merupakan kebiasaan yang reflektif yang semestinya ditopang oleh kebenaran rasio, dan intuisi dibimbing oleh wahyu Allah.
Aliran ahlus sunah memandang baik buruk didasarkan atas agama, dan akal tidak mungkin mengetahui yang baik dan buruk tergantung pada kesesuaian dengan akal, karena akal merupakan anugerah Allah yang mulia. Al-Ghazali memandang baik buruk atas akal yang didasari dengan jiwa agama baik berdasarkan al-Qur’an maupun hadis. sedang Abu A'la al-Maududi memandang baik buruk ditentukan oleh pengalaman, rasio, dan intuisi manusia yang dibimbing tuhan melalui wahyu-Nya. Tampaknya pendapat yang terakhir inilah yang dapat dijadikan prinsip baik akhlak alami, karena kenyataannya akhlak merupakan kebiasaan yang reflektif yang semestinya ditopang oleh kebenaran rasio, dan intuisi dibimbing oleh wahyu Allah.
2. Adanya
keseimbangan antara berakhlak kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada
makhluk Allah
Berakhlak kepada manusia adalah toleransi antaragama, memberikan hak sebagai tetangga, warga negara atau warga agama, ikut terlibat dalam segala hal, tidak ingin menang sendiri, bertanggungjawab atas masalah sosial, tolong menolong, saling memaafkan, saling menghormati, dan sabar serta menahan diri. Sedangkan akhlak kepada hewan dan tumbuhan adalah melestarikan, memanfaatkan untuk kepentingan ibadah, tidak menyakiti, sehingga Nabi SAW, menyerukan agar menajamkan alat potong ketika ingin menyembelih hewan
Berakhlak kepada manusia adalah toleransi antaragama, memberikan hak sebagai tetangga, warga negara atau warga agama, ikut terlibat dalam segala hal, tidak ingin menang sendiri, bertanggungjawab atas masalah sosial, tolong menolong, saling memaafkan, saling menghormati, dan sabar serta menahan diri. Sedangkan akhlak kepada hewan dan tumbuhan adalah melestarikan, memanfaatkan untuk kepentingan ibadah, tidak menyakiti, sehingga Nabi SAW, menyerukan agar menajamkan alat potong ketika ingin menyembelih hewan
3. Pelaksanaan
akhlak harus bersamaan dengan akidah dan syariah, karena ketiga unsur diatas
merupakan bagian integral dari syariah Allah swt.
4. Akhlak
dilakukan semata-mata karena Allah, walaupun objek akhlak adalah kepada
makhluk. Sedangkan ahklak kepada Allah harus lebih diutamakan dari pada akhlak
kepada makhluk.
5. Akhlak
dilakukan menurut proporsinya, misalnya seorang anak harus lebih hormat kepada
orang tuanya dari pada orang lain.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Akhlak ataupun
budipekerti memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Akhlak yang baik
akan membedakan antara manusia dengan hewan. Manusia yang berakhlak mulia,
dapat menjaga kemuliaan dan kesucian jiwanya, dapat mengalahkan tekanan hawa
nafsu syahwat syaitoniah, berpegang teguh kepada sendi-sendi keutamaan.
Menghindarkan diri dari sifat-sifat kecurangan, kerakusan dan kezaliman.
Manusia yang berakhlak mulia, suka tolong menolong sesama insan dan makhluk
lainnya. Mereka senang berkorban untuk kepentingan ersama.Yang kecil hormat
kepada yang tua,yang tua kasih kepada yang kecil.Manusia yang memiliki budi
pekerti yang mulia, senang kepada kebenaran dan keadilan, toleransi, mematuhi
janji, lapang dada dan tenang dalam menghadapi segala halangan dan rintangan.
Akhlak yang baik akan mengangkat manusia ke darjat yang tinggi dan mulia.
Akhlak yang buruk akan membinasakan seseorang insan dan juga akan membinasakan
ummat manusia. Manusia yang mempunyai akhlak yang buruk senang melakukan
sesuatu yang merugikan orang lain. Senang melakukan kekacauan, senang melakukan
perbuatan yang tercela, yang akan membinasakan diri dan masyarakat seluruhnya.
Nabi s.a.w.bersabda yang bermaksud: "Orang Mukmin yang paling sempurna
imannya, ialah yang paling baik akhlaknya." (H.R.Ahmad). Manusia yang
paling baik akhlaknya ialah junjungan kita Nabi s.a.w. sehingga budi pekerti
beliau tercantum dalam al-Quran, Allah berfirman yang maksudnya:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad), benar-benar berbudi pekerti yang agung.
"Sesuatu Ummat bagaimanapun hebat Kekuatan dan Kekayaan yang dimilikinya,
akan tetapi jika budi pekertinya telah binasa, maka Ummat itu akan mudah
binasa. Manusia yang tidak punya akhlak, mereka sanggup melakukan apa saja
untuk kepentingan dirinya. Mereka sanggup berbohong, membuat fitnah, menjual
marwah diri dan keluarga, malah dengan tidak segan silu lagi dia menjual Agama
dan Negaranya.
DAFTAR PUSTAKA
http://isaythisisaythat.blogspot.co.id/2012/12/metode-pencapaian-akhlak.html, di akses pada tanggal 19 desember 2016, jam
10.11
https://rumaysho.com/2778-3-prinsip-akidah-seorang-muslim.html, di akses pada tanggal 19 desember 2016, jam
10.14
Komentar
Posting Komentar